Minggu, 05 Juli 2009

BLUE ROSE Bagian 2

“Entahlah!” Akupun beranjak dari sudut dan melangkah keluar pintu, menyambut lembaran yang ku prediksi sama seperti hari-hari kemarin. Tak mengasyikkan. Bagai tergores dengan sembilu. Meski hanya dari bamboo tapi rasanya sama seperti tergores dengan baja atau besi. Berdiri di tengah-tengah tawa lepas dan menjadikanku orang paling tak berharga diseluruh dunia. Memiliki yang tak dimiliki dan tak pernah kumiliki. Berterimakasih ku kali ini atas segala mimpi yang menghantarkanku kehamparan bintang-bintang yang menyala. Keraguanku memang terkadang meruntuhkan setiap arus cinta ku. Menghela nafas dan membuangnya. Berharap hati ini menjadi sabar seperti kemarin.


Segalanya memang terasa cepat. Sebentar lagi pulang sekolah dan melangkah lagi sendiri. Berjalan keluar kelas. “Sa, besok harus jadi yah!” Aku hanya tersenyum. Esok hanyalah menanti. Esok hanyalah keterpaksaan. Esok hanyalah esok. Sebuah mimpi yang tertatih menerbangkan untaian kata-kata dalam benakku. Tak mampu menyatukan nya karena kerumitannya dan ketakutannya. Meraihnya hanyalah seperti mimpi tanpa kenyataan. Walau rintangan menghalang. Kekuatan tetap akan ada. Nyanyian sang dewi adalah kepercayaan yang mampu menghancurkan rantai kehidupan, terputus hanyalah kehendak. Masih terlalu jauh bagiku mengakhiri setiap asa dan mimpiku untuk mewujudkan setiap mimpi menjadi nyata. Malah sepertinya semua tergelincir dalam gelimangan limbah penuh dosa.
Menepaki jalan yang kemarin dengan pemandangan yang kemarin juga. Tidak ada yang berubah. Menaiki mobil angkot yang sama dan sendiri. Tidak ada yang satu jalan dengan ku. Apakah selamanya aku meski sendiri dalam ketakberdayaan akan hidup?


Sesampainya dirumah, aku hanya menunjukan wajah kelelahan. Masuk kamar, merapihkan diri dan berganti pakaian. Lelahku tak pernah berujung. Aku menuju meja makan dan membuka tudung saji. Kosong, hanya kosong. Aku tidak terkajut. Hal biasa. Aku masih di dalam kenyataan bukan alam mimpi. Jadi sangat wajar kalau mereka seperti tak menganggap aku ada. Berjuta puisi telah tertuang di lembar-lembaran kertas putih dan tak ada hasil. Hanya sebagai luapan emosi ku sesaat. Aku menggoreng telur ceplok. Saat aku memasak, aku berpikir tentang permintaan Lily untuk datang ke pertandingan basket. Aku sangat mau tapi aku harus menghindari. Menhindari sesuatu yang selalu mengintimidasi hati ku.
Telur ku gosong. Tak apa, sudah biasa hidup seperti ini. Baiklah kalau begitu besok aku akan dating. Karena seberapa besar aku menutup hati dari semua ini, tetap tak akan bisa ku melupakan dia dari lubuk hati yang sangat dasar.


“Teratai..Teratai..” sangat ramai sekali. “Sepertinya satu sekolah hadir yah Li..” Lily hanya mengangguk dan tersenyum. Sorot mata nya tertuju pada Berry yang sedari tadi berteriak meminta dukungan pada Lily, kekasihnya. “Aduh jadi ngiri sama kau nih Li..”
“Bisa aja kau Sa.. Ya udah jangan lupa teriak Berry yah.. Okeh?”
“Ga ah males, suara gue nanti abis lagi.”
“Ga segitunya kali.” Pertandingan pun segera dimulai. Aku menatap dia. Sorot matanya tajam menatap lawan-lawan dan bolanya. Semua pun meneriakan jagoan mereka. Tiba-tiba dari belakang muncul ke tempat yang paling depan dan berteriak, “Tommy..Tommy..” Yap bener. Orang yang berteriak itu, Iris, Jasmine dan Mawar.


Pertandingan sangat seru dan semakin seru. Pertandingan selesai dan sekolah Teratai adalah juaranya. Sekolah ku memang selalu mendapat Juara dalam olahraga basket. Lalu saat Tommy mengambil piala juara nya, ia membisikan sesuatu ke telinga juri. Juri mengambilkan microphone dan memberika pada dia. Mulutnya terbuka. “Selamat siang teman-teman. Berkat teman-teman yang sudah dating dan memberikan support nya kepada kami semua, kami bisa memenangkan pertandingan ini. Hmm.. sebenarnya ada satu hal yang ingin saya beritahukan pada teman-teman.”


Semua kebingungan termasuk aku dan bertanya-tanya. “Ada satu orang yang hadir dan saya sangat menghargai orang tersebut untuk datang kesini dengan susah payah.” Mawar, Iris dan Jasmine tersenyum-senyum. “Karena mungkin jika tidak ada orang tersebut, saya tidak memiliki motivasi untuk memenangkan pertandingan ini.” Semua pun sangat terheran. “Baiklah saya tidak akan bertele-tele. Saya jatuh hati kepada orang tersebut.” Semua orang di pertandingan bersorak kecuali aku. “Entah telah berapa lama aku menyukai dia, mungkin sejak temannya mengenalkan dia padaku.” Aku langsung menebak, pernyataan itu bukan untukku. Tapi aku penasaran, siapakah yang dicintai orang yang kucintai.


“Hmm.. di tempat ini aku ingin dia tahu kalau aku sering mencuri-curi pandang padanya. Okay, to the point aja yah! Orang itu adalah…” Jantungku berdebar seperti gendering yang dipukul sangat keras. “Rossa kamu bisa maju?” Hatiku ingin melompat dalam sekejap. Hatiku bersorak kegirangan tapi… aku melirikn ke Lily. Pasti dia semua yang merencanakan ini. Makanya aku diharuskan datang. Dasar….
Aku turun dengan perasaan yang aneh. Mimpi ku kali ini ataukah hanya khayalan yang terjadi dalam kenyataan. Dan setelah pertandingan ini berakhirlah sudah bercandaan ini. Aku turun dan menghampiri Tommy. “Rossa, will you be my love?” dia berlutut. Dia seperti apa yang kupikirkan selama ini. Apakah Lily telah memberitahu apa yang kusuka dan aku paling inginkan Tommy melakukan hal seperti ini? Entahlah. Aku hanya terdiam dan menjawab, “I do.” Semuanya seperti kisah dongeng tapi itulah yang sesungguhnya terjadi. Selalu ada hitam dan putih. Tuhan memang tak memilihkan apa yang kita mau tapi ia tahu apa yang terbaik untuk kita dan ia pilihkan waktunya hingga indahlah semuanya. Kenyataan di alam mimpi atau mimpi di alam kenyataan. Semua hanya aliran ketika kita menjalankan kehidupan.

BLUE ROSE Bagian 1

Mundur, mundur dan terus mundur. Waktu nya terus mundur. Tertahan dan selalu mundur. Tapi di suatu malam tak berhiaskan rembulan, udara dingin menyerang hatiku. Mata ku tertuju ke dalam foto yang menipu semua orang yang melihat. Di dalam foto itu, aku, kedua orangtuaku, dan kedua kakaku, terlihat sempurna tapi tetap saja tak bisa berkelit bahwa ada sesuatu yang sangat mencoreng. Bukan tinta atau apapun, tapi sebuah masalah yang sangat besar. Memandangi nya hingga air yang membendung keluar mengalir hingga berhulu ke hati. Maaf kan aku yang selalu bersembunyi di dalam topeng. Berdusta tiada akhir. Memancing segala keresahan dan kekhawatiran. Tapi sungguh semua itu bukan mau ku. Aku tak menginginkannya. Diriku seperti kupu-kupu yang terbang dan terus terbang menjauhi tempat dimana ia dilahirkan dan mencari sesuatu yang menurut nya manis seperti madu bunga. Melihat sekitar yang selalu bertindak tanpa otak. Begitu banyak pecahan yang berhamburan dan tak bisa diutuhkan kembali.


Ceritanya memang seperti ini. Tak bebas atau terkekang dalam kesunyian yang membawa kesendirian, tanpa bahagia yang utuh di depan matanya. Bukan apapun itu. Berubah dan terus merubah menjadi baru di setiap hari nya, tidak dan tidak akan selalu seperti apa yang kita inginkan. Mungkin bahagia suatu saat tapi pasti akan terluka atau melukai. Tuhan tak mendengar segala permintaanku. Dia tidak tuli, tapi dia memilih. Memilihkan ku sebuah keputusan. Tapi ini adalah hidupku. Mengapa dia ikut campur? Apa karena dia Tuhan ku?


Tak tahukah kamu semua dengan keberadaan makhluk seperti ku yang mengharapkan sebuah keajaiban di malam sepi seperti sekarang ini. Terpisah dari kenyataan yang selalu menyakitkan hati. Tentang hidup, cerita, luka, cinta dan sebuah hati yang mulai berantakan. Meski tak berujung tapi mencoba mencari sela di tepi jalan yang mulai membekukan langkah-langkah ku. Aku sendiri dan menyepi di tepi. Menahan sakit yang tak rela untuk dibagi oleh siapapun. Aku lahir untuk apa dan siapa? Pertanyaan yang tak pernah terjawab dalam sekejap. Aku terlelap dan masuk kealam bawah sadarku.
Masa lalu yang telah ku kubur seakan bangkit dan menyeruak kedalam hidupku lagi. Segala yang ku pilih tak berarti lagi. Meneruskan apapun yang kuhentikan dalam sebuah waktu. Tak pernah lagi bersuara dan tak pernah lagi menganggap nya bagian dalam hidupku. Aku salah dan aku disalahkan, tapi berilah kesempatan sedikit untuk memperbaiki nya. walaupun semua itu mustahil. Oranglain, hanyalah hembusan angin yang menerpa raga kosong yang terus berjalan di mimpi gelap ku. Cinta hanyalah biasan dari hati yang membutuhkan sebuah santapan untuk kekuatan, dan aku tak butuh itu.
Pagi terbit membawa jauh mimpiku. Aku terbangun. Mataku terbuka. Aku sangat tidak siap untuk menaggung beban dan membuka lembaran di hari ini. Aku bertopeng lagi dan merubah segala yang ada di dalam otakku. Biarkanlah aku yang merasakan semuanya. Kaki ku kaku, tak pernah ku menipu. Sekali saja terulang dan akan terus terulang. Ingatan ku tak jelas. Aku bukan lah seorang pengingat yang baik. Setengah mati mencoba untuk mengingat, tetap tak bisa. Semua nya telah terjadi. Ya sudahlah. Hati ini tak mampu membohongi sakit nya. tapi topeng ini mampu untuk menutupi luka yang tersirat sangat dalam dan hampir tak berujung.



Bertopeng lagi di sekolah


Dia lebih layak dari aku dan aku tak pantas bila terpaksa. Ku relakan seluruhnya hingga asa ku telah jauh terbawa angin. Aku tak memiliki kuasa apa-apa. Terjalin yang telah menjalin hanya demi perih nya sebuah hati. Terluka dalam dan terus mendalam tapi ini semua sakit yang kubanggakan. Tak perlu di tunjukan cukup di sembunyikan. Meski sulit sepertinya tapi harus. Mudah mengatakan nya dan selalu sulit dilakukan.Bermimpi tentang segalanya yang menjadikan ku abu. Tertiup angin dan menghilang.
“Kenapa kamu terlambat?” Tanya bu Daisy.

“Hm… itu bu mobil angkotnya mogok…” jawabku. Dan dia pun sepertinya menerima alasan ku tanpa pertanyaan nya lagi, aku segera duduk di sudut paling belakang. Apakah ini yang terbaik di dalam hidup ku? Selalu berkedok dan akankah selamanya berkedok. Munafik. Aku hanya tak ingin orang mengetahui apa yang kulakukan, yang ku rasakan dan yang terjadi dalam hidupku saat ini. Hal yang paling ku benci adalah kehilangan dan aku merelakan bertopeng agar aku tak kehilangan apapun yang telah menyatu tidak wajar di dalam ragaku. “Besok jadi ga?” Lily membuyarkan lamunanku.

“Ha..?” jawabku.

“Besok jadi jalan gak?” Aku mengangguk. “Insya ALLAH”. Jawaban yang sangat kilat dari bibir sang pendusta ini. Aku pergi dengan yang lain tanpa memperdulikan orang yang lain bersamaku. Semuanya telah terlewat dan mengecam hati. Memberontak dalam kantuk yang sangat besar dan. “Rossa!!!” aku terbangun dari setengah bawah sadarku. Sebuah dunia mimpi yang selalu kita ketahui.


“Hah.. ada apa bu?” jiwa dan ragaku belum menyatu. Aku mencoba untuk bangkit dan membuka mata ku dengan menyipit.

“Kamu tidur yah?” aku menggeleng. “Lalu..?”

“Lagi berkhayal tentang kedamaian dunia, bu. Seandainya perang dunia kedua tidak pernah terjadi yah bu.” Dia mengangguk, sangat masuk akal walaupun bagiku mengada-ada tapi dipercaya oleh bu Daisy. Pelajaran sejarah memang selalu membosankan. Mengambang di tengah kesendirian di sudut tanpa tawa ataupun tangis. Mencari sebuah tempat yang nyaman dan aman untuk bersembunyi untuk bermimpi. Bel berbunyi. Istirahat yang di nanti telah tiba. Terkadang energy ku habis dimakan waktu yang kelaparan karena kehabisan bahan bakar untuk menjalankan setiap detik-detik kehidupan. Berusaha bangkit dari segala yang menyingkirkan.


Mawar, Iris dan Jasmine datang kekelas ku. Melihat seluruh sudut kelas kecuali aku. “Liat tuh temen lo. Ngapain dia kemari?” Aku tak menjawab. Langkahnya pun perlahan menghilang. “Sa, kamu masih sedih di depak sama orang kayak mereka?”

BLUE ROSE English Version

Rewind, back and hold back. Hold back its time. Restrained and always backwards. But in a night not berhiaskan moon, cold heart attack. Specific to my eyes in an image that deceive all those who see. In the image, I, orangtuaku second, and second kakaku, looks perfect, but it still can not berkelit that there is something very strike. Not the ink or anything, but a problem which is very large. Look it up to the dam the water flows out to disgorge to the heart. I am sorry I always lurk in the mask. Lie no end. Fishing all unrest and concerns. But all is not quite like me. I do not want it. Myself as a butterfly flying and continue to fly clear of the place where he was born and find something that is sweet as nectar. Viewing who is always around to act without a brain. So many bills, and the flow can not diutuhkan again.
The story is like this. No free or bridled in the silence that brings loneliness, without the full happiness in front of the eyes. Is not any. Changed and continues to be a new change in it every day, does not and will not always like what we want. May be a happy time but it will hurt or injure. God did not hear all permintaanku. He is not deaf, but he chose. I Memilihkan a decision. But this is my life. Why he took the intervention? What is God because he was my?

Do not know all of you to the existence of creatures like me who expect a miracle in the quiet night like this now. Separate from reality, which is always painful. About life, stories, injury, love and a heart that disordered. Although not culminate, but try to find the gap in the curb that freeze my steps. I own and menyepi on edge. A real pain that is not to be divided by anyone. I was born for what and who? Questions that never missed a glance. I fall asleep and dream

Past that have been my grave as if to rise and menyeruak into life again. All that I choose not mean more. Any of the forward stop me in a while. Never again voiced and never again take part in his life. I am wrong and I am always wrong, but give little chance to improve it. although all of them impossible. People, just the wind blowing jump sport of running empty in my dark dreams. Love is just biasan of heart that require a fine for strength, and I do not need it.


Morning brings far my dream. I awakened. Eyes open. I is not ready to bear the burden and open the sheet on this day. I cover up again and change all that is in otakku. Let me feel that all of them. My legs were rigid, never deceive me. Repeated only once and will continue to recur. I do not recall clearly. I is not a good reminder. Half trying to remember the dead, still can not. All it has occurred. Yes never. Heart is not able to hoodwink his illness. but the mask is able to cover the wound that is implicit in and almost did not culminate.

Cover up again in the school

He is worthy of me, and I do not deserve when forced. My relakan entirely up to my despair has brought much wind. I have no power whatsoever. Which has involved only after a tender to its heart. Injury and continue in-depth but this is all a sick kubanggakan. No need to show enough in the hide. Although it seems difficult but it should be. Easy to say and its always difficult dilakukan.Bermimpi about everything that makes my ashes. gust wind and disappeared.

"Why you late?" Ask Teacher


"Hm ... that teachers' car broke down ..." jawabku. And he seems to accept without question my reasons for it again, I immediately sat in the back corner. Is this the best in my life? Always wear a mask and will forever wear a mask. Hypocrites. I just do not want people to know what kulakukan, and that I feel is happening in my life at this time. The most I hate is losing, and I merelakan mask so I do not lose anything that was not fair ignites in ragaku. "Tomorrow so ga?" Lily membuyarkan lamunanku.

"Ha .." I answered.
"Tomorrow is a road?" I nod. "Insya GOD." The very edge of the flash from this liar. I went with the other without considering the other person with me. Everything has been a criticism terlewat and heart. Rebelled in drowsiness and a very large. "Rossa!" I awakened from the bottom half sadarku. A dream world that we always know.
"Hah .. bu what? "of the soul and ignites ragaku not. I try to rise up and open my eyes to narrow.
"You sleep well?" I shake. "And ..?"
"More visions of world peace, bu. Had the second world war did not happen yah bu. "He nod, although very reasonable for me but there is a trusted by mother Daisy. Subject history is always boring. Float in the middle of loneliness in the corner without a laugh or cry. Finding a place for comfortable and safe hiding for a dream. Buzzer sounds. The rest has come in later. Sometimes my energy when eaten out of hunger because running out of fuel to run every seconds of life. Any attempt to rise from the ditch.

Roses, Iris and Jasmine to come to my class. See all corners of the class except me. "Liat tuh temen lo. Ngapain he here? "I said no. Step is slowly disappearing. "Sa, you are still sad at the same kick as they are?"

"I don’t know!" I go from the corner and step out the door, welcoming my input sheet is the same as day-to-day yesterday. Not ravish. What with the scratches sembilu. Although only of bamboo, but it's the same as scratches with steel or iron. Standing in the midst of laughter and casual menjadikanku not worth most people around the world. Who have never owned and never kumiliki. I grateful for all this time the dream menghantarkanku kehamparan the stars that light. Keraguanku indeed sometimes knock my love for each flow. Draw breath and remove them. Hope this is a heart patient, such as yesterday.

Everything feels really fast. Shortly be in school and come home again himself. Walk out the class. "Sa, tomorrow I should be so!" I just smiled. Tomorrow is just waiting. Tomorrow is just keterpaksaan. Tomorrow is just tomorrow. A dream that tertatih fly string of words in really. Not able to unify because of its kerumitannya and ketakutannya. Achieved only as a dream without reality. Despite obstacles prevented. Strength will be there. Songs of the goddess is the trust that is capable of destroying the chain of life, just lost the will. Still too far for any end in despair and mimpiku to realize every dream become real. In fact it seems all a slip in the waste full gelimangan sin.


a walk yesterday with that yesterday also. Nothing changed. Angkot a car and own the same. There is no one way with me. Will forever even though I own ketakberdayaan akan live in?
Sesampainya at home, I only showed the face exhaustion. Entrance room, merapihkan themselves and change clothes. Lelahku never be. I go to open a table and cover food. Empty, just empty. I do not terkajut. Ordinariness. I was in fact not in dreamland. Be very reasonable if they were not considered as I have. Berjuta poems have been written on the sheet-sheet of white paper and no results. Just as my emotions overflow shortly. I fry eggs ceplok. When I cook, I thought about the request for Lily to come to the game basketball. I really want to but I have to avoid. Menhindari something that my heart always intimidation.

I burnt eggs. Never mind, it is a normal life like this. Okay so if I will come tomorrow. Because of how big I close the heart of all this, still can not akan ku forget he's a very subconscious basis.
"Teratai Teratai .. .." very hectic. "It looks like a school I attended Li .." Lily just nod and smile. Highlight it is to the eyes of Berry earlier shout sedari ask support on Lily, kekasihnya. "Oops so I envy you the same Li .."

"Yes I remember screaming Berry yah .. Okeh? "
"I ah males, I will vote abis again."
"Ga segitunya times." Rivalry was immediately started. I regard him. Highlight the sharp eyes stare opponents and bolanya. All they are meneriakan blade. Suddenly appear from behind to place the front and cried, "Tommy Tommy .. .." Yap bener. People are shouting, Iris, Jasmine and Rose.

The match is very exciting and the more exciting. The match finished and the school is juaranya Teratai. My school is always get the Champion in the sport basketball. Then when Tommy took his Cup champion, he membisikan the jury to the ear. Jury draw on the microphone and memberika him. Mouth open. "Selamat siang friends. Thanks to the friends who are dating and give its support to us all, we can win this rivalry. Hmm .. actually there is one thing that I want to inform on friends. "All I include confusion and wonder. "There is one person who attended and I would appreciate people to come here with great difficulty." Roses, Iris and Jasmine smile-smile. "Because if not there may be people, I do not have the motivation to win this rivalry." All is very great. "Okay I will not be long-winded. I feel sorry for the person. "All the people in the game except I yell. "Know how long I've liked him, since friends may introduce him to me." I hit the direct, the statement is not for me. But I am curious, who loved the people kucintai. "Hmm .. in this place I want to know if he is I often steal-steal perspective on it. Okay, to the point aja yah! That person is ... "Jantungku pulse as the gendering beaten very hard. "Rossa, you can forward?" My heart want to jump in a flash. Heart cheer excitement ... but I melirikn to Lily. Surely all that he planned this. So I must come. ...

I came down with a strange feeling. My dream this time, or only the illusion occurs in reality. And after the match this berakhirlah already bercandaan this. I am down and about Tommy. "Rossa, will you be my love?" He knees. He was like what kupikirkan for this. Will Lily have to tell you what kusuka, and I want Tommy to do most things like this? Entahlah. I am just speechless and said, "I do." Overall, such as fairy tale, but it is indeed the case. There are always black and white. Memilihkan God is not what we want but he knows what is best for us and he pilihkan time to indahlah all. Reality in the dream or dreams in the reality of nature. All flow only when we run life

Kamis, 25 Juni 2009

nada pelangi

kemarin mengambang di tengah haluan..

tergerai di tengah titik..

mengkurut seperti cecurut..

merangkak bukan katak..

memiliki mata hanya melihat sebelah..

butuh damai..

tapi terlalu sunyi..

hingga menggema..

di sudut kebodohan aku tertawa..

karena tertipu dengan tampak seperti malaikat..

ketajaman hati menusuk siku-siku rongga hati..

menanti hingga tertatih..

berjuang tapi tak ada uang..

tak perlu memang..

karena pelangi tak pernah berjanji..

dan tak pernah mengingkari..

tapi warna nya yang mencoba berpindah dari satu nada ke nada lain..

manis tapi sangat egois..

haru tapi menipu..

indah dan sangat indah..

lantunan nya mulai tak terdengar..

karena runcing nya hati di lukai dan melukai..

merobek sela-selanya dan menghujam cepat..

bertahan sebentar dan hilang..

nada nya lenyap di gamang ketakberdayaan..

Jumat, 12 Juni 2009

Bintang Pagi

Seindah nya sebuah pagi buta..

tak pernah terasa gelisah..

tak percaya adanya gembira..

meski hati ini ramai seperti pasar..

seperti gelas yang pecah dan debu kaca menyebar ke seluruh penjuru..

terbagi rata..

malam kemarin aku tertangkap..

cahaya menyilaukan dari guratan kebohongan..

menerobos ke dalam pori2..

menembus dinding hati..

dan menyesakkan seluruh pernafasan..


terkagum hingga mata ini hanya bisa menyipit dan semakin sipit..

begitulah malam2 penuh kepalsuan..

tanpa sebuah kata aku, tahu..

tahu akan arti dari bintang malam yang kau gantungkan di langit2 kamar mu..

rembulan pun muram durja ketika hamparan bintang itu yang kau lihat , bukan dia..

satu demi satu mereka bermunculan dan membentuk suatu koloni yang sering di sebut gugusan..

bermain dengan sebuah harapan..

bercerita dengan dongeng impian..

bergejolak dalam sebuah cahaya tak tampak tapi menyilaukan mata mu...

bintang malam segera kabur ketika sang tuan rumah muncul di balik embun..

berdatangan bersama mentari..

dan dengan nafas yang kau hembuskan pertama kali..

bintang di pagi tiba..

semua kabur, tanpa sia..

dia menyengat mu..

dengan cahaya sempurna nya..
terasa terik tapi tetap menarik..

kini lama nya sang waktu mulai terkendali dan mengakibatkan melambat nya putaran waktu...

aku terdiam..

memandang langit pagi dengan bintang pagi..

esok kah yang kutunggu atau malam ini ku bermimpi..?

Kamis, 28 Mei 2009

Hitam di tengah Putih

di kumpulan yang tak pernah ku ingin kan..
Bagai Rusa tak bertanduk..
berusaha untuk mendobrak masuk..
Tanpa adanya perlawanan..
Dan Terbuang..

Kali ini lebih mencoba dengan sepenuh tenaga..
Terjerumus dalam dosa pun tak masalah..
Bercerita dengan seksama..
Khawatir dan sesal..

Gersang nya gurun sahara tak menggersangkan ide di kepala..
Yang menjadi sebuah tempat untuk mengadukan yang terjadi untuk esok tanpa ada yang tau..
Sang waktu tidak berkata..
Perlahan menghilang dan tak muncul ke permukaan..

Butir-butir tak tersentuh sedikit pun..
tak ingin menyelaminya..
Tapi terpaksa..

Jaringan nya sedikit demi sedikit meregang..
Kaku..
Tak diketahui..
Meminta sebuah yang tak mungkin..
Keadaan nya mulai menjadi perbedaan dengan legam nya perisai diri ini..
Kesempatannya mulai nampak samar-samar dan tetap seperti itu..

Tak mungkin bisa memungkiri ada nya di kedua keadaan..

bukan Tuhan..
bukan malaikat..
Dan bukan iblis..

Tak ingat pernah berlalu dalam sebuah masa yang tak pernah terartikan..
terbaikan..
Tersisihkan..

Telah termiliki cawan yang di minum dengan sebuah hiasan kecil di samping nya..
Begini, dan terus begitu..

berada di pertengahan..
Tengah akan segala kuasa..
Tengah yang berubah di kemudian..

Nyala api nya tak terbentuk..
Goresan itu bukan apa-apa..

Hitam nya kemarin..
Mencoba untuk menyusup ke tengah-tengah putih..
Mencoba untuk mengotori yang pernah terjadi sebelum nya..
Air mata di patahkan..
Tangisan tak dapat menggoda..
Kesempatan kali ini tak kan lepas lagi..

Hijau dan nyaman..
Sekeliling bersih dan wangi..
masih kotor dan bau..
Tapi tercium wangi yang berbeda, bukan bau..
Sedikit berbeda dan tiada yang mengira atau menyadari..

Terjepit dan bingung menapa seperti ini..
Dan aku menikmati ini semua..
Bagai mahkota yang tertera..
Beban tapi berkuasa..
Nista nya laksana embun yang terjatuh sebelum waktunya..
Embusan nya terasa sedikit berbeda..
Pandangan pertama adalah putih dan perlahan menunjukan ke hitaman nya..

Ombak hati bergemuruh kencang..
Akan menjadi baik-baik saja..
Selama yang diinginkan..

Terlupa di saat angin ber sepoi segar..
Tertekan dalam ke abadian karena sebuah penghakiman..

Panas saat tiba waktu nya memuncak..
tiada koma dan tiada titik..
hanya rangkaian yang tak jelas arah nya..
sorot nya agak nelangsa..
mendekat dan hamper mengahmpiri..

mengubah sebuah kepalsuan dan kepercayaan..
menculik beberapa cahaya di tengah malam..tertinggal hanya bersama jiwa..
terlepaskan di tengah kepasrahan..
yang kini teresahkan dalam gambaran diri..

semesta masih belum menebak yang terjadi..
teraba pun tidak..
bumi ini masih sama..

tak bergeming dan sunyi..
di lautan lepas hanya ada aku dan debur ombak..

seringkali aku meronta di jiwa..
tapi tak terusik..
terganggu pun tidak..

menyembunyikan rahasianya rapih tapi segera terbongkar..
gelisah..
dan tiba-tiba terkuak lah sebuah cerita yang tersimpan..

bagai iblis atau malaikat nanti nya..
resah nya terus menerus..
terpenjara dalam hati..

mencoba menggapai celah langit-langit yang hanya bisa di masuki cicak..
bom waktu meledak dan membakar segala yang membuat ku panas..
selama ini, hanya bersimpuh dan memohon ampun atas ke munafikkan..
bukan iblis tapi seperti iblis..
bukan malaikat tapi seperti malaikat..
bom waktu menghancurkan impian yang tersimpan sejak lama..
seharus nya tercipta tapi sekarang ternista..
meronta akan kesalahan..
sebenarnya tak sadar..
tapi hati menunjukan lain..
menggengam debu-debu harapan..

kini hitam terlempar dari tengah putih..

Selasa, 26 Mei 2009

Embun di tengah subuh

Kisah nya hanya terlunta-lunta..
Luntang lantung tak jelas..
Manis nya tangis mu kala hujan mengguyur..
Kau janji nya di hilangkan..
Ternyata tak dipenuhi..

Begitu kah bisikan pagi yang menjerumuskan aku..
Menjerumuskan ke dalam kantuk yang menggelapkan..
Menggelapkan kedua mata ku..

Kemana perginya kemarin..
Apakah terlewat atau memang telah berlalu..

Tinggalkan beberapa jejak..
Jejak yang menyedihkan..
Hingga terusik ingin tahu..

Terdengar suara tetesan yangsebelumnya mengumpul di sebuah daun..
Bening dan jernih..
Kumpulan nafas ku kemarin kah..?
Atau memang itu yang kubutuhkan untuk mengobati goresan hati yang terasa mengalun berisik..

Memilu pilar-pilar hatinya..
Saat memohon tetesan itu..

Bahkan merelakan air mata menguap..
Sangat banyak yang tertumpah ruah..

Tak pandai ber sikap dan menuju sebuah tempat yang selalu mengikuti langkah seribu dan juta an bayangan..

Sebuah hati yang terluka tak mampu menjerit lagi..
Serak..
Luka dalam meradang hingga goyang..
Terpatahkan tapi masih mencoba untuk bertahan dalam kesendirian..

Inilah pengakuan penyendiri yang takut akan menghilang dan kehialngan..
Begitu menyindir para kekasih yang tertipu dengan aroma wewangian sang petaka..

Janji ku pada yang abadi hampir terangkat..
Tapi kini merenung dan tidak ingin lagi..

Sungguh menggigil di musim dingin..
Sungguh tersengat di musim panas..
Sunguh terluka di musim semi..
Dan sungguh tak dapat melihat dunia karena musim gugur menjemput embun subuh ku..
Yang tak dapat ku hirup lagi nafas ku kemarin..

Daun gugur di pagi b uta…
Dan sang penyair meninggalkan fana nya..