OKKY RENGGA
064.08.035
a person who has creative ideas and innovative.
And the opportunity to start a new business related to the field of telematics (technology and informatics) which these entrepreneurs have the capital account or spend it when starting a business, the income will be in the can after the business was run and the gains for those employers after the return of capital.
Minggu, 06 September 2009
Senin, 31 Agustus 2009
Kangen dy
Ngapain sih km muncul lg di benakku?
Tak bs kah ak sedikit membunuhi rasa ini?
Masa lalu yg menghantam kalbu ini hingga pertahanan ku hancur,
di
BULAN RAMADHAN kali ini,
aku sungguh banyak kehilangan,
hatiku telah kosong, bagai kamar yang tak pernah di singgahi,
ak hanya manusia,
ak tak terlihat,
ak telah hilang di tengah pasar,
setiap hari, ak menjadi budak kegelisahan dari masa lalu,
tak dapat lagi ku menepis semua,
ak menangis,
hanya bisa menangis,
tapi tak ingin menangis..
Ya ALLAH,
BERIKANLAH HAMBAMU INI KEKUATAN UNTUK SEGALA COBAAN YG KAU BERI, Amien..
Allahumma shalli ala ihi Muhammad, YA RABBI shalli ala ihi wasalim, Allahumma shalli ala ihi Muhammad, Ya Rabbi baligh huwa silam..
Tak bs kah ak sedikit membunuhi rasa ini?
Masa lalu yg menghantam kalbu ini hingga pertahanan ku hancur,
di
BULAN RAMADHAN kali ini,
aku sungguh banyak kehilangan,
hatiku telah kosong, bagai kamar yang tak pernah di singgahi,
ak hanya manusia,
ak tak terlihat,
ak telah hilang di tengah pasar,
setiap hari, ak menjadi budak kegelisahan dari masa lalu,
tak dapat lagi ku menepis semua,
ak menangis,
hanya bisa menangis,
tapi tak ingin menangis..
Ya ALLAH,
BERIKANLAH HAMBAMU INI KEKUATAN UNTUK SEGALA COBAAN YG KAU BERI, Amien..
Allahumma shalli ala ihi Muhammad, YA RABBI shalli ala ihi wasalim, Allahumma shalli ala ihi Muhammad, Ya Rabbi baligh huwa silam..
Jumat, 10 Juli 2009
PAPA
Pagi yang sangat tenang di rumah nenek Saidah. Aku dan adik sangat senang jika liburan ke rumah nenek Saidah. Di rumah nenek Saidah itu tidak ada polusi udara yang sering menyesakkan dada ku. Mungkin karena rumah nenek di daerah pegunungan. Aku dan kedua adik sedang makan bubur yang dibuat oleh nenek. Rasanya sangat enak daripada tukang bubur di jalanan yang sudah terkena asap atau debu kendaraan bermotor. “Laura, kapan mama dan papa kamu datang menjemput?” nenek tersenyum padaku.
“Aku juga gak tahu nek. Soal nya di Jakarta papa dan mama masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan. Mungkin 3 hari lagi, nek.” Aku membalas senyum nenek. Lalu nenek duduk di kursi goyang nya, tempat favorit nenek. Nama ku Laura. Umurku 5 tahun. Aku akan masuk TK. Adik ku yang pertama laki-laki, namanya Junior. Dia berumur 2 tahun. Dan yang satu lagi perempuan tapi itu kata ibu. Ibu sedang hamil 7 bulan. Kata ibu, ia sudah USG atau melihat bayi di dalam perut dengan alat. Lalu kata ibu, adik ku nanti adalah perempuan. Senang nya aku memiliki adik nantinya.
“Kring…kring…kring” Aku segera mengambil telepon dan mengangkatnya. “Halo!” aku langsung menyapa dan berharap ayah dan ibu yang menelepon.
“Laura, ini mama.” Untung mama. Tapi ada apa yah mama telepon? Apa dia tidak akan jadi kesini? Aku penasaran.
“Laura siapa itu yang menelepon?” nenek Saidah berteriak kencang sekali. Padahal jarak antara aku dan telepon tidak lah terlampau jauh. Dia berjalan mendekati ku.
“Mama, nek.” Nenek berjalan sedikit demi sedikit kea rah ku. “Ada apa mah? Papa dan Mama jadi kan kesini?” nenek langsung merebut telepon nya dari aku.
“Kamu harus datang sekarang yah. Kasihan ini Junior menangis terus.” Nenek berbohong pada mama. Aku kan bisa memberikan Junior susu bila dia rewel ataupun sedang menangis.
“Iya bu, aku akan datang dengan Prince.” Nenek hanya mengangguk. Telepon terputus. Tapi kapan mama dan papa datang? Mereka hanya bilang akan. Ah tidak pasti. Terkadang orangtua memang seringkali membohongi nya untuk alas an pribadi atau yang tak jelas. Tapi mereka tetaplah orangtua yang paling baik di seluruh dunia. Dan aku juga menyayangi mereka.
****
Hati ku sangat tak enak sudah seharian semenjak kemarin ibu menelepon. “Nek, mama kapan datang?” nenek hanya menggeleng. Malam yang sangat dingin dan sejuk membuat aku sangat mengantuk. Sebelum tidur aku sangat haus. Aku ke dapur dan membuat air hangat. Saat aku menuangkan air panas dari termos, aku melamun sehingga gelas nya terisi penuh dan pecah. Aku terkena sedikit air panas nya. aku menangis dan seisi rumah nenek menuju ke arah ku.
“Ada apa Laura?” bibi Katie segera membersihkan meja dan pecahan gelas. Aku turun sambil menangis karena percikan air panas yang masih menempel dan sangat terasa.
“Ya sudah kamu pergi cuci tangan dan bagian yang perih kamu kasih odol yah!” nenek juga datang. Tiba-tiba telepon berdering. “Halo!” nenek mengangkat telepon. Dan aku menuju ke kamar mandi tapi aku menengok sekilas ke arah nenek. Wajah nya terlihat seperti yang sedang mengkhawatirkan sesuatu dan sangat cemas. Setelah dari toilet aku segera tidur.
****
Pagi datang dan merenggut mimpi ku lagi. Aku bangun dengan perasaan yang sangat gundah. Rasa sakit akibat percikan air panas sudah tidak terasa lagi tapi apa yang membuat aku menjadi seperti ini? Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi, aku hanyalah seorang anak kecil. “Nek, tadi malam siapa yang menelepon?” aku sangat penasaran dari semalam. Penelepon itu membuat nenek khawatir.
“Bukan siapa-siapa. Ya sudah kamu sarapan dulu sana.” Nenek tersenyum. Apakah yang terjadi perasaan ku semakin menguat. Aku ke meja makan. Sepertinya nenek menyembunyikan sesuatu dari aku. Baiklah nanti aku yang akan mencari tau nya sendiri. Karena yang namanya wangi pasti kan tercium juga. Aku makan. Aku masih merasakan perasaan yang sama, hingga membuat aku tersedak. Bbi Katie memberikan ku minuman. Mama kenapa belum datang juga yah?
****
3 hari kemudian mama datang sendiri diantar paman Josh. “Papa mana ma?” mama hanya tersenyum dan membisu. Mama langsung ke kamar Nenek dan entah apa yang terjadi selanjutnya. Aku tak bisa mendekat ke kamar itu dan mendengar percakapan antara mama dan nenek. Aku harap rasa ke ingintahuan ku tidak menjadikan boomerang untuk ku. Aku harap semua baik-baik saja.
1 jam berlalu mama keluar dengan mata sembab. Apa mama habis menangis? Entahlah. Tapi pasti ada sebabnya. Mama mengambil adik dan membereskan perlengkapan ku dan adik. Lalu kami pergi dari rumah nenek. 2 hari lagi aku masuk TK. Aku sudah tak sabar lagi.
****
Sampai dirumah aku menanyakan papa. “Ma, papa kok gak ikut kerumah nenek jemput kami sih?” mama hanya tersenyum dan bisu. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir mama. Mama langsung istirahat di kamar. Aroma tubuh papa tidak bisa aku temukan. Biasa nya kalau pun papa pergi kerja, wangi nya pasti ada di sudut kamarku. Tapi kini wangi papa aku gak bisa cium lagi.
Sebentar lagi jam papa pulang kantor. Lalu aku mandi dan siap bermain dengan papa. Suara mobil berhenti di depan rumah ku. “Kayak nya bunyi mobil papa deh.” Aku membuka pintu dan tersenyum. Tapi saat aku membuka mata, ternyata paman Josh.
“Mama dimana sayang?” paman Josh memberikan aku permen cokelat.
“Di kamar om sedang tidur-tiduran.” Aku bertanya lagi. “Paman tahu dimana papa?” paman Josh menggeleng. Lalu dia melangkahkan kaki nya ke kamar Mama. Paman Josh adalah adik dari mama. Dia pernah ingin menikah tapi tidak jadi, entah kenapa. “Papa kok pulang kerja nya lama sekali yah?” lalu aku ke kamar mama. “Ma, kok papa belum pulang yah? Aku kangen banget sama papa, ma.” Mama tersenyum tapi mata yang menahan berjuta-juta tetesan air mata itu tak mampu bertahan lagi. Setetes demi tetes air mata mama jatuh.
“Laura, sini sama mama.” Aku naik ke kasur dan paman Josh pulang. “Nak, papa kamu sedang pergi ketempat yang jauh sekali.” Mama menangis lagi.
“Iya jauh nya kemana? Amerika? Atau apa?” aku semakin penasaran. “Kenapa mama tidak ikut?” aku menatap mama. “Dan apa yang papa lakukan disana?”
“Lebih jauh nak. Mama kan sedang mengandung adik mu. Jadi mama tidak bisa ikut papa mu. Papa disana sedang bertugas.” Mama menghapus air matanya.
“Terus kapan papa pulang?” mama menggeleng. Dan mencium dahi ku. Aku turun dari tempat tidur dan mencari papa di setiap sudut rumah. Tapi aku tak menemukan nya. Aku mencari nya juga di luar rumah. Tapi aku tak bisa menemukan papa. Perasaan ku sungguh tak enak.
Aku merindukan nya sungguh. Aku masuk ke kamar ku. Aku rindu bermain dengan papa. Aku rindu melihat tawa papa. Aku rindu mendengar suara papa. Aku rindu mencium wangi papa. Aku rindu segalanya tentang papa. Apa ayah sudah tak sayang lagi pada ku dan Junior? Mengapa ia meninggalkan aku, Junior dan mama? Tanpa terasa mataku terasa berat. Aku mencium wangi papa di sebelahku dan aku merasakan papa membelai rambutku, mengelus pipi ku dan mencium kening ku. Dia menghantarkanku ke alam mimpi.
****
Matahari terbit. Aku bangun dari tidurku dan mencari papa di kamar mama tapi papa tidak ada. Papa diamanpun kau berada aku merindukan mu dan aku menyayangimu sepenuh hatiku. Aku bangga memiliki papa seperti kamu. Karena papa adalah papa yang terbaik yang tak pernah ku bayang kan saat aku lahir ke dunia ini. Terimakasih papa atas segala yang telah kau berikan. Aku hanya mengucap itu di depan pintu rumah. Berharap papa cepat pulang.
“Aku juga gak tahu nek. Soal nya di Jakarta papa dan mama masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan. Mungkin 3 hari lagi, nek.” Aku membalas senyum nenek. Lalu nenek duduk di kursi goyang nya, tempat favorit nenek. Nama ku Laura. Umurku 5 tahun. Aku akan masuk TK. Adik ku yang pertama laki-laki, namanya Junior. Dia berumur 2 tahun. Dan yang satu lagi perempuan tapi itu kata ibu. Ibu sedang hamil 7 bulan. Kata ibu, ia sudah USG atau melihat bayi di dalam perut dengan alat. Lalu kata ibu, adik ku nanti adalah perempuan. Senang nya aku memiliki adik nantinya.
“Kring…kring…kring” Aku segera mengambil telepon dan mengangkatnya. “Halo!” aku langsung menyapa dan berharap ayah dan ibu yang menelepon.
“Laura, ini mama.” Untung mama. Tapi ada apa yah mama telepon? Apa dia tidak akan jadi kesini? Aku penasaran.
“Laura siapa itu yang menelepon?” nenek Saidah berteriak kencang sekali. Padahal jarak antara aku dan telepon tidak lah terlampau jauh. Dia berjalan mendekati ku.
“Mama, nek.” Nenek berjalan sedikit demi sedikit kea rah ku. “Ada apa mah? Papa dan Mama jadi kan kesini?” nenek langsung merebut telepon nya dari aku.
“Kamu harus datang sekarang yah. Kasihan ini Junior menangis terus.” Nenek berbohong pada mama. Aku kan bisa memberikan Junior susu bila dia rewel ataupun sedang menangis.
“Iya bu, aku akan datang dengan Prince.” Nenek hanya mengangguk. Telepon terputus. Tapi kapan mama dan papa datang? Mereka hanya bilang akan. Ah tidak pasti. Terkadang orangtua memang seringkali membohongi nya untuk alas an pribadi atau yang tak jelas. Tapi mereka tetaplah orangtua yang paling baik di seluruh dunia. Dan aku juga menyayangi mereka.
****
Hati ku sangat tak enak sudah seharian semenjak kemarin ibu menelepon. “Nek, mama kapan datang?” nenek hanya menggeleng. Malam yang sangat dingin dan sejuk membuat aku sangat mengantuk. Sebelum tidur aku sangat haus. Aku ke dapur dan membuat air hangat. Saat aku menuangkan air panas dari termos, aku melamun sehingga gelas nya terisi penuh dan pecah. Aku terkena sedikit air panas nya. aku menangis dan seisi rumah nenek menuju ke arah ku.
“Ada apa Laura?” bibi Katie segera membersihkan meja dan pecahan gelas. Aku turun sambil menangis karena percikan air panas yang masih menempel dan sangat terasa.
“Ya sudah kamu pergi cuci tangan dan bagian yang perih kamu kasih odol yah!” nenek juga datang. Tiba-tiba telepon berdering. “Halo!” nenek mengangkat telepon. Dan aku menuju ke kamar mandi tapi aku menengok sekilas ke arah nenek. Wajah nya terlihat seperti yang sedang mengkhawatirkan sesuatu dan sangat cemas. Setelah dari toilet aku segera tidur.
****
Pagi datang dan merenggut mimpi ku lagi. Aku bangun dengan perasaan yang sangat gundah. Rasa sakit akibat percikan air panas sudah tidak terasa lagi tapi apa yang membuat aku menjadi seperti ini? Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi, aku hanyalah seorang anak kecil. “Nek, tadi malam siapa yang menelepon?” aku sangat penasaran dari semalam. Penelepon itu membuat nenek khawatir.
“Bukan siapa-siapa. Ya sudah kamu sarapan dulu sana.” Nenek tersenyum. Apakah yang terjadi perasaan ku semakin menguat. Aku ke meja makan. Sepertinya nenek menyembunyikan sesuatu dari aku. Baiklah nanti aku yang akan mencari tau nya sendiri. Karena yang namanya wangi pasti kan tercium juga. Aku makan. Aku masih merasakan perasaan yang sama, hingga membuat aku tersedak. Bbi Katie memberikan ku minuman. Mama kenapa belum datang juga yah?
****
3 hari kemudian mama datang sendiri diantar paman Josh. “Papa mana ma?” mama hanya tersenyum dan membisu. Mama langsung ke kamar Nenek dan entah apa yang terjadi selanjutnya. Aku tak bisa mendekat ke kamar itu dan mendengar percakapan antara mama dan nenek. Aku harap rasa ke ingintahuan ku tidak menjadikan boomerang untuk ku. Aku harap semua baik-baik saja.
1 jam berlalu mama keluar dengan mata sembab. Apa mama habis menangis? Entahlah. Tapi pasti ada sebabnya. Mama mengambil adik dan membereskan perlengkapan ku dan adik. Lalu kami pergi dari rumah nenek. 2 hari lagi aku masuk TK. Aku sudah tak sabar lagi.
****
Sampai dirumah aku menanyakan papa. “Ma, papa kok gak ikut kerumah nenek jemput kami sih?” mama hanya tersenyum dan bisu. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir mama. Mama langsung istirahat di kamar. Aroma tubuh papa tidak bisa aku temukan. Biasa nya kalau pun papa pergi kerja, wangi nya pasti ada di sudut kamarku. Tapi kini wangi papa aku gak bisa cium lagi.
Sebentar lagi jam papa pulang kantor. Lalu aku mandi dan siap bermain dengan papa. Suara mobil berhenti di depan rumah ku. “Kayak nya bunyi mobil papa deh.” Aku membuka pintu dan tersenyum. Tapi saat aku membuka mata, ternyata paman Josh.
“Mama dimana sayang?” paman Josh memberikan aku permen cokelat.
“Di kamar om sedang tidur-tiduran.” Aku bertanya lagi. “Paman tahu dimana papa?” paman Josh menggeleng. Lalu dia melangkahkan kaki nya ke kamar Mama. Paman Josh adalah adik dari mama. Dia pernah ingin menikah tapi tidak jadi, entah kenapa. “Papa kok pulang kerja nya lama sekali yah?” lalu aku ke kamar mama. “Ma, kok papa belum pulang yah? Aku kangen banget sama papa, ma.” Mama tersenyum tapi mata yang menahan berjuta-juta tetesan air mata itu tak mampu bertahan lagi. Setetes demi tetes air mata mama jatuh.
“Laura, sini sama mama.” Aku naik ke kasur dan paman Josh pulang. “Nak, papa kamu sedang pergi ketempat yang jauh sekali.” Mama menangis lagi.
“Iya jauh nya kemana? Amerika? Atau apa?” aku semakin penasaran. “Kenapa mama tidak ikut?” aku menatap mama. “Dan apa yang papa lakukan disana?”
“Lebih jauh nak. Mama kan sedang mengandung adik mu. Jadi mama tidak bisa ikut papa mu. Papa disana sedang bertugas.” Mama menghapus air matanya.
“Terus kapan papa pulang?” mama menggeleng. Dan mencium dahi ku. Aku turun dari tempat tidur dan mencari papa di setiap sudut rumah. Tapi aku tak menemukan nya. Aku mencari nya juga di luar rumah. Tapi aku tak bisa menemukan papa. Perasaan ku sungguh tak enak.
Aku merindukan nya sungguh. Aku masuk ke kamar ku. Aku rindu bermain dengan papa. Aku rindu melihat tawa papa. Aku rindu mendengar suara papa. Aku rindu mencium wangi papa. Aku rindu segalanya tentang papa. Apa ayah sudah tak sayang lagi pada ku dan Junior? Mengapa ia meninggalkan aku, Junior dan mama? Tanpa terasa mataku terasa berat. Aku mencium wangi papa di sebelahku dan aku merasakan papa membelai rambutku, mengelus pipi ku dan mencium kening ku. Dia menghantarkanku ke alam mimpi.
****
Matahari terbit. Aku bangun dari tidurku dan mencari papa di kamar mama tapi papa tidak ada. Papa diamanpun kau berada aku merindukan mu dan aku menyayangimu sepenuh hatiku. Aku bangga memiliki papa seperti kamu. Karena papa adalah papa yang terbaik yang tak pernah ku bayang kan saat aku lahir ke dunia ini. Terimakasih papa atas segala yang telah kau berikan. Aku hanya mengucap itu di depan pintu rumah. Berharap papa cepat pulang.
Kamis, 09 Juli 2009
Daddy
Ayah, kamu dimana?
Aku mencari mu kemanapun tapi aku tak dapat menemukan mu
Bahkan jejak-jejak mu tak dapat lagi ku lihat
Ayah, aku merindukan mu
Aku rindu bermain dengan ayah
Aku rindu mendengar cerita ayah
Aku rindu mendengar suara ayah
Ayah, kamu pergi kemana?
Kata Ibu, Kamu pergi ke Surga
Tapi mengapa kamu tidak membawa ku, adik dan ibu?
Apa kamu lupa dengan kami?
Apa kamu tidak lagi menyayangi kami?
Ayah, mungkin aku masih kecil tapi nanti aku akan beranjak dewasa
Apa nanti ayah bisa melihat aku?
Kata Ibu, Ayah akan selalu mengawasi ku dari Surga
Apa sih yang ayah lakukan di Surga sana?
Bolehkah suatu saat nanti aku kesana mengunjungi mu?
Ayah adalah ayah yang terbaik yang tak pernah kubayangkan yang kumiliki selama ini
Aku bangga
Aku sangat senang
Tapi sekarang tidak
Ayah, aku kasihan pada ibu
Dia harus menjaga aku dan kedua adik
Dia juga harus bekerja
Dia sungguh lelah
Apakah ayah masih lama disana?
Ayah, aku hanya ingin bilang
“Aku sangat menyayangi ayah”
Aku mencari mu kemanapun tapi aku tak dapat menemukan mu
Bahkan jejak-jejak mu tak dapat lagi ku lihat
Ayah, aku merindukan mu
Aku rindu bermain dengan ayah
Aku rindu mendengar cerita ayah
Aku rindu mendengar suara ayah
Ayah, kamu pergi kemana?
Kata Ibu, Kamu pergi ke Surga
Tapi mengapa kamu tidak membawa ku, adik dan ibu?
Apa kamu lupa dengan kami?
Apa kamu tidak lagi menyayangi kami?
Ayah, mungkin aku masih kecil tapi nanti aku akan beranjak dewasa
Apa nanti ayah bisa melihat aku?
Kata Ibu, Ayah akan selalu mengawasi ku dari Surga
Apa sih yang ayah lakukan di Surga sana?
Bolehkah suatu saat nanti aku kesana mengunjungi mu?
Ayah adalah ayah yang terbaik yang tak pernah kubayangkan yang kumiliki selama ini
Aku bangga
Aku sangat senang
Tapi sekarang tidak
Ayah, aku kasihan pada ibu
Dia harus menjaga aku dan kedua adik
Dia juga harus bekerja
Dia sungguh lelah
Apakah ayah masih lama disana?
Ayah, aku hanya ingin bilang
“Aku sangat menyayangi ayah”
Message For Caroline
Dianggap dan menganggap sudah tak penting lagi. Kesedihan sudah menjalar kedalam dirinya. Memerhatikan sebuah hati yang terluka dari jauh. Berusaha diobati lukanya hingga mengering tapi terluka lagi. Sejentik waktupun berusaha merusak dan terus menghantam jiwa yang sedang goyah.Tak terucap sedikitpun rasa sakit yang dia rasakan karena dia selalu menikmatinya hingga aliran darah mengalir ke kalbu nya.
Dia berdiri sendiri di kemilau taburan bintang, di hadapan rembulan, di tengah-tengah sepi. Menantikan sebuah keajaiban yang tak kunjung datang. Tujuh hari sudah lelaki pujaan nya belum kembali dari peperangan di seberang lautan sana. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mereka baik-baik saja? Wajah penuh kesedihan sangatlah tersirat. Semua tak bisa ditutupi oleh Caroline. Sudah 1 tahun dia merajut benang-benang kasih dengan Adam yang seorang angkatan laut.
“Caroline…caroline… kamu dimana?” teriakan tersebut memecah sepi nya pelabuhan di malam sepi itu. “Caroline..caroline..” Suara itu makin mendekat ke arah Caroline. Dan “Caroline.. kamu kemana saja. Aku dan orangtua mu mencari kamu. Apa yang kamu lakukan disini? Ayo kita pulang.” Caroline bergeming. Lalu dia tidak menahan hasrat nya untuk menangis. Tetes demi tetes, membasahi pipi nya. “Aku mengerti apa yang kamu rasakan tapi yakinlah dia akan pulang, hanya untuk dirimu.” Jessie, sahabat Caroline ikut larut dalam suasana haru itu. Dia pun menghapus air mata Caroline. “Ayo kita pulang. Kita tunggu Adam di rumah, dia pasti memarahi aku karena membiarkan kau sendirian di tengah malam di pelabuhan pula.” Jessie merangkul Caroline menuju ke rumah.
****
Tiga hari setelah kejadian itu. Adam dan kru kapal menang dalam peperangan dan telah sampai di pelabuhan. Caroline berlari dari rumah. Dia tidak menghiraukan apa pun, dia menuju ke pelabuhan. Setelah tiba disana dari kejauhan terlihat kapal Adam dan para awak berdiri di haluan kapal, mereka terlihat sangat gagah. Setengah dari orang di kota melihat kejadian itu termasuk Caroline. Caroline mencoba mendekat ke kapal. Dia melihat senyum Adam dan tetap mencoba berjalan mendekat ke kapal. Mata Adam tertuju ke bagian depan tepi pelabuhan. Dalam hati ia berkata, “Caroline belum datang, apa dia tidak tahu kalau aku sudah pulang?” Mata Adam masih mencari-cari sosok wanita berambut pirang itu. Tiba-tiba saja teriakan memecah suasana yang paling dinanti semua orang. “Adam..Adam.. aku disini.” Adam segera turun dari kapal dan menemui Caroline. Mereka berpelukan.
Setelah itu, semua orang di kota itu berpesta atas kemenangan Adam dan para kru kapal. “Adam, selamat yah.” Jessie menyalami tangan Adam. Adam hanya tersenyum. “Aku senang kamu telah kembali, aku hanya takut sesuatu yang ku takutkan akan menjadi nyata. Dan Caroline akan sedih.”
“Ya, aku mengerti maksud mu. Aku akan berusaha sebaik mungkin.” Jawab nya bersemangat dan senyum hangat nya yang membuat hati Jessie berdetup kencang. Jessie mencintai Adam, dan tidak ada seorang pun yang tahu kecuali tuhan dan dirinya.
“Jessie…” Jessie menengok ke arah suara tersebut. Suara itu adalah suara David salah satu kru kapal yang menaruh hati pada nya. David bergegas menghampiri Jessie. “Kok kamu masih hidup? Bukan nya mati aja saat perang.” Sahut Jessie sambil tersenyum.
“Tidak mungkin Jes, saya kuat. Tidak mungkin terkalahkan kecuali Tuhan atau pun wanita. Hahaha…” sambung David dan tawanya.
****
Pesta telah usai dan kehidupan seperti biasa seperti sebelum perang dimulai kembali. Hari itu hari sabtu, teriknya matahari sungguh panas. Caroline tak dapat menahan keringatnya yang keluar dari dalam tubuh nya. Dia berjalan ke tempat dimana Adam bertugas. Dia masuk ke ruang kerja Adam. Adam bertanya, “Apa yang kamu lakukan disini?”
“Aku membawakan mu makanan untuk makan siang. Apa aku salah?” Caroline menunjukkan makanan tersebut ke hadapan Adam.
“Tapi paling tidak kau bisa menelepon ku terlebih dahulu.” Adam bernada tinggi.
“Memang kenapa? Apa aku salah jika ingin memberi mu sedikit kejutan?” Adam hanya diam dan mengacuhkan Caroline. Tiba-tiba ada dua pegawai yang masuk ke ruangan tersebut.
“Apa kamu mau makan siang ini?” Tanya Caroline pada pegawai itu lalu Caroline memberikan makan siang tersebut kepada mereka.
“Terimakasih yah!” salah satu dari kedua pegawai yang mengambil makanan itu tersenyum. Dan Caroline pergi.
“Kalian taruh makanan itu di meja saya dan keluar..” Adam berkata pada kedua pegawai tersebut.
“Tapi…” bantah salah satu dari kedua pegawai itu.
“Apa kalian berdua mau saya pecat?” mereka berdua ketakutan dan makanan ditaruh di meja Adam. Kedua pegawai itu segera pergi dari hadapan Adam. Mereka kembali ke ruangan Adam. “Mau apalagi kalian?” kata Adam. Dia menunjukan sampah yang harus diambil di ruangan tersebut. Setelah mengambilnya, mereka pergi.
****
Caroline datang ke rumah Jessie dan bercerita tentang perlakuan Adam padanya. “Aku benci padanya Jes. Aku benci……sekali……” masuk kamar Jessie sambil marah-marah.
“Hah? Ada apa? Aku sama sekali tidak mengerti maksud mu.” Jawab Jessie penasaran.
“Si Adam tuh nyebelin, bete-in, pokokna benci..benci.. deh sama dia.” Cerocos Caroline.
“Memang kalian bertengkar apalagi?” Jessie semakin penasaran. “Dia selingkuh? E..ee…. dia ngelakuin sesuatu yang buruk sama kamu?” sambung Jessie.
“Tidak semuanya.” Amarah Caroline mulai reda. “Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk ataupun memiliki kekasih lain selain aku. Tapi tadi saat sebelum makan siang, aku mengantarkan makan siang kepada Adam. Tapi…” Nada suaranya semakin redup. “Tapi… ia memarahiku. Karena aku tidak menghubunginya sebelum aku kesana. Padahal aku hanya ingin memberikan makan siang untuknya.” Jessie hanya tersenyum.
“Caroline, Adam mungkin sedang sibuk sehingga dia tidak ingin diganggu oleh siapapun termasuk kamu.” Caroline hanya mengangguk. “Jadi, kamu harus bersabar apabila dia memiliki banyak pekerjaan. Apalagi dia sekarang sudah diangkat menjadi kapten.”
“Makasih yah atas nasehatnya, Jes. Kamu tuh temen aku yang paling dewasa dan paling bijak.” Caroline hanya tersenyum dan memeluk Jessie.
****
“Kring..kring…kring…” telepon berdering di ruangan Adam. “Hallo…” Adam mengangkatnya. “Iya..Iya..baik pak saya akan segera kesana.” Lalu Adam menutup telepon nya dan bergegas ke ruangan di ujung lorong. “Permisi pak. Maaf, ada apa tadi bapak memaggil saya?” Tanya dia sambil menghampiri Bapak John, seorang Admiral yang mengawasi peperangan kemarin.
“Ini gawat.” Dia mengatakan dengan tenang tapi sangat dalam sehingga membuat Adam bertanya-tanya.
“Maaf, pak tapi apa yang gawat?” rasa penasaran dari wajah Adam tak bisa ditutupi lagi.
“Menurut bagian pemantauan dan pengawasan, musuh akan segera menyerang. Tapi bukan dari arah barat...” Lalu Admiral melanjutkan perkataannya. “Melainkan dari arah timur.”
“Saya mengerti maksud bapak. Saya dan para kru harus menghadapi mereka dengan hati-hati. Karena bagian timur sangat rawan dengan cuaca laut yang tak bisa kita perkirakan. Tapi apa yang mendasari mereka melakukan penyerangan dari arah timur?” Adam menatap mata Admiral, seolah meyakinkan bahwa mereka semua akan menang dan selamat hingga ke daratan.
“Saya juga tidak tahu. Baiklah kalau kamu mengerti apa maksud saya. Siapkan kru mu dan berangkat besok pagi-pagi sekali.” Adam bergegas keluar dari ruangan Admiral dan menuju ke para kru yang sedang istirahat makan siang.
“Semuanya, musuh akan segera menyerang. Persiapkan dirimu. Besok pagi-pagi sekali kita harus berangkat.” Adam bicara penuh semangat setelah sampai di Kantin. Semua nya mengangguk dan Adam segera menuju kantor nya untuk mempersiapkan keesokkan harinya.
****
Caroline pulang ke rumah di sore hari. Ia menuju kamar dan merebahkan dirinya di kasur. Di pandangnya foto Adam hingga membuat hasrat rindu Caroline menggebu-gebu. Ingin sekali ia menelepon tapi gengsi yang ada diotak Caroline. Suasana kamar Caroline yang remang-remang mengantarkan ia kepada mimpi indahnya.
Tiba-tiba ditengah mimpi nya, ketukan pintu yang sangat keras mengejutkannya. “Siapa?” Tanya caroline sambil membuka sedikit matanya.
“Ini aku, Jessie. Cepat buka Lin!” teriak Jessie.
“Sabar donk, Jes!” Caroline mengangkat raganya. “Ada apa sih emangnya kok lo bangunin gue malem-malem kayak gini? Ganggu tau.” Caroline melirik jam dan membuka pintu.
“Lin, Adam pergi perang lagi. Sekarang dia sedang briefing di pelabuhan dengan kru kapal lain nya.” Jessie menahan tangis nya. “Dia ke arah timur!” tegas Jessie. Dia tak memberikan Caroline kesempatan untuk berbicara sedikitpun. “Kamu tahu artinya Lin?”
“Ayo cepat kita tak ada waktu lagi untuk berbicara disini.” Caroline dan Jessie bergegas menuju pelabuhan dengan Motor Jessie.
****
Mereka terlambat. Kapal sudah jalan. “Adam…Adam…Kamu jangan pergi…” teriak Caroline dari mulut pelabuhan.
“Tenang saja Caroline! Aku akan baik-baik saja. Aku pasti kembali untukmu.” Teriak Adam dari kejauhan yang semakin lama kapalnya menjauh dan tak terlihat lagi oleh mata telanjang. Caroline jatuh dan menangis. Jessie tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya memeluk Caroline.
****
Hari pertama setelah ditinggal Adam. Caroline hanya menangisi kepergian kekasih nya. Ia memandangi foto Adam. Ia bingung kenapa Adam tak menceritakan soal kepergian nya kali ini. Jessie berusaha menenangkan Caroline.
Hari kedua, sama seperti hari pertama. Caroline hanya bisa menangisi kekasih nya itu dan menyesali. “Kenapa aku tak menelepon Adam dan meminta maaf kemarin? Kenapa aku begitu egois? Kenapa aku terlalu ke kanak-kanakan? Apa ini pertanda baik untuk kita ataukah buruk?” hanya kata-kata itu lah yang selalu bersemayam dalam pikiran Caroline. Hari berikutnya seperti kemarin dan terus meratapi hingga hari dimana para kru kembali.
****
Pikiran buruk yang selalu Jessie pikirkan terjadi. Para kru kembali ke kota tak ada semangat. Jessie dan Caroline datang terlambat ke pelabuhan. Saat Jessie dan Caroline mendekat ke para kru yang sudah turun dari kapal. Suasana yang muncul disana hanyalah bisu, tak ada senyum, tak ada tawa, tak ada teriakan dsb. Semua membisu dan tertegun. Kepala David hanya tertunduk ke tanah dimana ia berpijak. Jessie segera mengetahui apa yang terjadi. Mata Caroline tetap mencari-cari wajah Adam, senyum Adam, dan raga Adam. Tapi matanya tak menemukan apa-apa. Apa ini semua hanya ke jahilan dari sang kekasih atau…? “Adam… Adam…Adammm… Dimana kamu? Jangan bersembunyi dari aku. Apa kau sudah tuli? Cepat datang kemari!” Jessie hanya memeluk sahabat nya itu dan menangis. “Kenapa kau menangis, Jes? Hentikan permainan ini, Adam. Aku lelah. Aku merindukanmu, sungguh!” teriak Caroline lagi sambil merintih. Semua tetap bergeming.
“Lin, Adam was die…” Jessie menangis dan Caroline jatuh ke tanah. “Dia udah gak ada…” sambung Jessie lagi.
“Kamu bohong!” bentak nya pada Jessie. “Kalian bercanda.” Caroline meneteskan air mata yang sudah sedari tadi ditahannya.
“Caroline, aku minta maaf karena aku lah Adam tiada.” David menjatuhkan air mata ke tanah. “Adam terbunuh ketika ingin menyelamatkan aku dari musuh.” Rintihan David sangatlah menggetarkan semua yang hadir. Caroline terisak-isak. David jatuh dan berlutut di hadapan Caroline. “Maaf kan aku Caroline… Maaf…” Caroline luluh bergeming. Hati Caroline sungguh tersayat. Nanah yang mengendap, menyeruak ke permukaan. Jessie memapah Caroline untuk bangkit dan segera pulang ke rumah Caroline.
“Tunggu!” David mengeluarkan sesuatu dari kantong celana nya. “Ini! Maaf agak kotor!” David memberikan sepucuk surat kepada Caroline.
“Apa ini?” Tanya Jessie dan ia mengambil surat tersebut. Lalu Jessie menyobek surat itu dan ingin membaca nya.
“Maaf, Jes! Tapi surat ini bukan untukmu melainkan Caroline dan yang harus membaca nya juga Caroline. Ini amanat dari Adam.” Jessie menyerahkan surat tersebut ke Caroline.
Surat Adam
Sayang, apa kabar? Maaf yah jika aku tidak memberitahukan mu tentang kepergian ku ini. Bukan maksudku untuk tidak memberitahukan mu tapi aku hanya tidak ingin membuat mu khawatir. Maafkan juga yah, atas sikapku yang kemarin! Mungkin aku agak sedikit kasar padamu dan membuat mu kesal tapi sungguh aku tidak ada maksud berbuat seperti itu. Aku sudah makan masakan mu dan itu enak sekali. Terimakasih yah, aku sangat menghargai mu. Mungkin surat-surat an seperti ini seperti hal classic tapi tidak bagi ku. Aku pasti kembali hanya untuk mu tapi jika aku tak kembali… janganlah kau bermuram durja ataupun bersedih. Aku sudah berjuang sekuat tenaga tapi Tuhan berkehendak lain… Hahaha… Maaf yah sayang bila aku berkata seperti ini tapi kita harus berpikir hal yang buruk juga kan!
Ada satu hal yang aku ingin minta dari kamu apabila aku tidak bisa kembali. Tolong tulislah yang kamu lakukan dari bangun pagi hingga malam hari pada satu lembar kertas dan masukan kedalam botol. Setelah itu, buang botol nya ke laut agar aku bisa mengetahui apa yang kamu lakukan pada hari itu. Maukah kau melakukan itu untuk ku? Hmmm… untuk Jessie, tolonglah jaga Caroline dan terimalah pinangan David. Hehehe…
Your Love,
Adam
Dia berdiri sendiri di kemilau taburan bintang, di hadapan rembulan, di tengah-tengah sepi. Menantikan sebuah keajaiban yang tak kunjung datang. Tujuh hari sudah lelaki pujaan nya belum kembali dari peperangan di seberang lautan sana. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mereka baik-baik saja? Wajah penuh kesedihan sangatlah tersirat. Semua tak bisa ditutupi oleh Caroline. Sudah 1 tahun dia merajut benang-benang kasih dengan Adam yang seorang angkatan laut.
“Caroline…caroline… kamu dimana?” teriakan tersebut memecah sepi nya pelabuhan di malam sepi itu. “Caroline..caroline..” Suara itu makin mendekat ke arah Caroline. Dan “Caroline.. kamu kemana saja. Aku dan orangtua mu mencari kamu. Apa yang kamu lakukan disini? Ayo kita pulang.” Caroline bergeming. Lalu dia tidak menahan hasrat nya untuk menangis. Tetes demi tetes, membasahi pipi nya. “Aku mengerti apa yang kamu rasakan tapi yakinlah dia akan pulang, hanya untuk dirimu.” Jessie, sahabat Caroline ikut larut dalam suasana haru itu. Dia pun menghapus air mata Caroline. “Ayo kita pulang. Kita tunggu Adam di rumah, dia pasti memarahi aku karena membiarkan kau sendirian di tengah malam di pelabuhan pula.” Jessie merangkul Caroline menuju ke rumah.
****
Tiga hari setelah kejadian itu. Adam dan kru kapal menang dalam peperangan dan telah sampai di pelabuhan. Caroline berlari dari rumah. Dia tidak menghiraukan apa pun, dia menuju ke pelabuhan. Setelah tiba disana dari kejauhan terlihat kapal Adam dan para awak berdiri di haluan kapal, mereka terlihat sangat gagah. Setengah dari orang di kota melihat kejadian itu termasuk Caroline. Caroline mencoba mendekat ke kapal. Dia melihat senyum Adam dan tetap mencoba berjalan mendekat ke kapal. Mata Adam tertuju ke bagian depan tepi pelabuhan. Dalam hati ia berkata, “Caroline belum datang, apa dia tidak tahu kalau aku sudah pulang?” Mata Adam masih mencari-cari sosok wanita berambut pirang itu. Tiba-tiba saja teriakan memecah suasana yang paling dinanti semua orang. “Adam..Adam.. aku disini.” Adam segera turun dari kapal dan menemui Caroline. Mereka berpelukan.
Setelah itu, semua orang di kota itu berpesta atas kemenangan Adam dan para kru kapal. “Adam, selamat yah.” Jessie menyalami tangan Adam. Adam hanya tersenyum. “Aku senang kamu telah kembali, aku hanya takut sesuatu yang ku takutkan akan menjadi nyata. Dan Caroline akan sedih.”
“Ya, aku mengerti maksud mu. Aku akan berusaha sebaik mungkin.” Jawab nya bersemangat dan senyum hangat nya yang membuat hati Jessie berdetup kencang. Jessie mencintai Adam, dan tidak ada seorang pun yang tahu kecuali tuhan dan dirinya.
“Jessie…” Jessie menengok ke arah suara tersebut. Suara itu adalah suara David salah satu kru kapal yang menaruh hati pada nya. David bergegas menghampiri Jessie. “Kok kamu masih hidup? Bukan nya mati aja saat perang.” Sahut Jessie sambil tersenyum.
“Tidak mungkin Jes, saya kuat. Tidak mungkin terkalahkan kecuali Tuhan atau pun wanita. Hahaha…” sambung David dan tawanya.
****
Pesta telah usai dan kehidupan seperti biasa seperti sebelum perang dimulai kembali. Hari itu hari sabtu, teriknya matahari sungguh panas. Caroline tak dapat menahan keringatnya yang keluar dari dalam tubuh nya. Dia berjalan ke tempat dimana Adam bertugas. Dia masuk ke ruang kerja Adam. Adam bertanya, “Apa yang kamu lakukan disini?”
“Aku membawakan mu makanan untuk makan siang. Apa aku salah?” Caroline menunjukkan makanan tersebut ke hadapan Adam.
“Tapi paling tidak kau bisa menelepon ku terlebih dahulu.” Adam bernada tinggi.
“Memang kenapa? Apa aku salah jika ingin memberi mu sedikit kejutan?” Adam hanya diam dan mengacuhkan Caroline. Tiba-tiba ada dua pegawai yang masuk ke ruangan tersebut.
“Apa kamu mau makan siang ini?” Tanya Caroline pada pegawai itu lalu Caroline memberikan makan siang tersebut kepada mereka.
“Terimakasih yah!” salah satu dari kedua pegawai yang mengambil makanan itu tersenyum. Dan Caroline pergi.
“Kalian taruh makanan itu di meja saya dan keluar..” Adam berkata pada kedua pegawai tersebut.
“Tapi…” bantah salah satu dari kedua pegawai itu.
“Apa kalian berdua mau saya pecat?” mereka berdua ketakutan dan makanan ditaruh di meja Adam. Kedua pegawai itu segera pergi dari hadapan Adam. Mereka kembali ke ruangan Adam. “Mau apalagi kalian?” kata Adam. Dia menunjukan sampah yang harus diambil di ruangan tersebut. Setelah mengambilnya, mereka pergi.
****
Caroline datang ke rumah Jessie dan bercerita tentang perlakuan Adam padanya. “Aku benci padanya Jes. Aku benci……sekali……” masuk kamar Jessie sambil marah-marah.
“Hah? Ada apa? Aku sama sekali tidak mengerti maksud mu.” Jawab Jessie penasaran.
“Si Adam tuh nyebelin, bete-in, pokokna benci..benci.. deh sama dia.” Cerocos Caroline.
“Memang kalian bertengkar apalagi?” Jessie semakin penasaran. “Dia selingkuh? E..ee…. dia ngelakuin sesuatu yang buruk sama kamu?” sambung Jessie.
“Tidak semuanya.” Amarah Caroline mulai reda. “Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk ataupun memiliki kekasih lain selain aku. Tapi tadi saat sebelum makan siang, aku mengantarkan makan siang kepada Adam. Tapi…” Nada suaranya semakin redup. “Tapi… ia memarahiku. Karena aku tidak menghubunginya sebelum aku kesana. Padahal aku hanya ingin memberikan makan siang untuknya.” Jessie hanya tersenyum.
“Caroline, Adam mungkin sedang sibuk sehingga dia tidak ingin diganggu oleh siapapun termasuk kamu.” Caroline hanya mengangguk. “Jadi, kamu harus bersabar apabila dia memiliki banyak pekerjaan. Apalagi dia sekarang sudah diangkat menjadi kapten.”
“Makasih yah atas nasehatnya, Jes. Kamu tuh temen aku yang paling dewasa dan paling bijak.” Caroline hanya tersenyum dan memeluk Jessie.
****
“Kring..kring…kring…” telepon berdering di ruangan Adam. “Hallo…” Adam mengangkatnya. “Iya..Iya..baik pak saya akan segera kesana.” Lalu Adam menutup telepon nya dan bergegas ke ruangan di ujung lorong. “Permisi pak. Maaf, ada apa tadi bapak memaggil saya?” Tanya dia sambil menghampiri Bapak John, seorang Admiral yang mengawasi peperangan kemarin.
“Ini gawat.” Dia mengatakan dengan tenang tapi sangat dalam sehingga membuat Adam bertanya-tanya.
“Maaf, pak tapi apa yang gawat?” rasa penasaran dari wajah Adam tak bisa ditutupi lagi.
“Menurut bagian pemantauan dan pengawasan, musuh akan segera menyerang. Tapi bukan dari arah barat...” Lalu Admiral melanjutkan perkataannya. “Melainkan dari arah timur.”
“Saya mengerti maksud bapak. Saya dan para kru harus menghadapi mereka dengan hati-hati. Karena bagian timur sangat rawan dengan cuaca laut yang tak bisa kita perkirakan. Tapi apa yang mendasari mereka melakukan penyerangan dari arah timur?” Adam menatap mata Admiral, seolah meyakinkan bahwa mereka semua akan menang dan selamat hingga ke daratan.
“Saya juga tidak tahu. Baiklah kalau kamu mengerti apa maksud saya. Siapkan kru mu dan berangkat besok pagi-pagi sekali.” Adam bergegas keluar dari ruangan Admiral dan menuju ke para kru yang sedang istirahat makan siang.
“Semuanya, musuh akan segera menyerang. Persiapkan dirimu. Besok pagi-pagi sekali kita harus berangkat.” Adam bicara penuh semangat setelah sampai di Kantin. Semua nya mengangguk dan Adam segera menuju kantor nya untuk mempersiapkan keesokkan harinya.
****
Caroline pulang ke rumah di sore hari. Ia menuju kamar dan merebahkan dirinya di kasur. Di pandangnya foto Adam hingga membuat hasrat rindu Caroline menggebu-gebu. Ingin sekali ia menelepon tapi gengsi yang ada diotak Caroline. Suasana kamar Caroline yang remang-remang mengantarkan ia kepada mimpi indahnya.
Tiba-tiba ditengah mimpi nya, ketukan pintu yang sangat keras mengejutkannya. “Siapa?” Tanya caroline sambil membuka sedikit matanya.
“Ini aku, Jessie. Cepat buka Lin!” teriak Jessie.
“Sabar donk, Jes!” Caroline mengangkat raganya. “Ada apa sih emangnya kok lo bangunin gue malem-malem kayak gini? Ganggu tau.” Caroline melirik jam dan membuka pintu.
“Lin, Adam pergi perang lagi. Sekarang dia sedang briefing di pelabuhan dengan kru kapal lain nya.” Jessie menahan tangis nya. “Dia ke arah timur!” tegas Jessie. Dia tak memberikan Caroline kesempatan untuk berbicara sedikitpun. “Kamu tahu artinya Lin?”
“Ayo cepat kita tak ada waktu lagi untuk berbicara disini.” Caroline dan Jessie bergegas menuju pelabuhan dengan Motor Jessie.
****
Mereka terlambat. Kapal sudah jalan. “Adam…Adam…Kamu jangan pergi…” teriak Caroline dari mulut pelabuhan.
“Tenang saja Caroline! Aku akan baik-baik saja. Aku pasti kembali untukmu.” Teriak Adam dari kejauhan yang semakin lama kapalnya menjauh dan tak terlihat lagi oleh mata telanjang. Caroline jatuh dan menangis. Jessie tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya memeluk Caroline.
****
Hari pertama setelah ditinggal Adam. Caroline hanya menangisi kepergian kekasih nya. Ia memandangi foto Adam. Ia bingung kenapa Adam tak menceritakan soal kepergian nya kali ini. Jessie berusaha menenangkan Caroline.
Hari kedua, sama seperti hari pertama. Caroline hanya bisa menangisi kekasih nya itu dan menyesali. “Kenapa aku tak menelepon Adam dan meminta maaf kemarin? Kenapa aku begitu egois? Kenapa aku terlalu ke kanak-kanakan? Apa ini pertanda baik untuk kita ataukah buruk?” hanya kata-kata itu lah yang selalu bersemayam dalam pikiran Caroline. Hari berikutnya seperti kemarin dan terus meratapi hingga hari dimana para kru kembali.
****
Pikiran buruk yang selalu Jessie pikirkan terjadi. Para kru kembali ke kota tak ada semangat. Jessie dan Caroline datang terlambat ke pelabuhan. Saat Jessie dan Caroline mendekat ke para kru yang sudah turun dari kapal. Suasana yang muncul disana hanyalah bisu, tak ada senyum, tak ada tawa, tak ada teriakan dsb. Semua membisu dan tertegun. Kepala David hanya tertunduk ke tanah dimana ia berpijak. Jessie segera mengetahui apa yang terjadi. Mata Caroline tetap mencari-cari wajah Adam, senyum Adam, dan raga Adam. Tapi matanya tak menemukan apa-apa. Apa ini semua hanya ke jahilan dari sang kekasih atau…? “Adam… Adam…Adammm… Dimana kamu? Jangan bersembunyi dari aku. Apa kau sudah tuli? Cepat datang kemari!” Jessie hanya memeluk sahabat nya itu dan menangis. “Kenapa kau menangis, Jes? Hentikan permainan ini, Adam. Aku lelah. Aku merindukanmu, sungguh!” teriak Caroline lagi sambil merintih. Semua tetap bergeming.
“Lin, Adam was die…” Jessie menangis dan Caroline jatuh ke tanah. “Dia udah gak ada…” sambung Jessie lagi.
“Kamu bohong!” bentak nya pada Jessie. “Kalian bercanda.” Caroline meneteskan air mata yang sudah sedari tadi ditahannya.
“Caroline, aku minta maaf karena aku lah Adam tiada.” David menjatuhkan air mata ke tanah. “Adam terbunuh ketika ingin menyelamatkan aku dari musuh.” Rintihan David sangatlah menggetarkan semua yang hadir. Caroline terisak-isak. David jatuh dan berlutut di hadapan Caroline. “Maaf kan aku Caroline… Maaf…” Caroline luluh bergeming. Hati Caroline sungguh tersayat. Nanah yang mengendap, menyeruak ke permukaan. Jessie memapah Caroline untuk bangkit dan segera pulang ke rumah Caroline.
“Tunggu!” David mengeluarkan sesuatu dari kantong celana nya. “Ini! Maaf agak kotor!” David memberikan sepucuk surat kepada Caroline.
“Apa ini?” Tanya Jessie dan ia mengambil surat tersebut. Lalu Jessie menyobek surat itu dan ingin membaca nya.
“Maaf, Jes! Tapi surat ini bukan untukmu melainkan Caroline dan yang harus membaca nya juga Caroline. Ini amanat dari Adam.” Jessie menyerahkan surat tersebut ke Caroline.
Surat Adam
Sayang, apa kabar? Maaf yah jika aku tidak memberitahukan mu tentang kepergian ku ini. Bukan maksudku untuk tidak memberitahukan mu tapi aku hanya tidak ingin membuat mu khawatir. Maafkan juga yah, atas sikapku yang kemarin! Mungkin aku agak sedikit kasar padamu dan membuat mu kesal tapi sungguh aku tidak ada maksud berbuat seperti itu. Aku sudah makan masakan mu dan itu enak sekali. Terimakasih yah, aku sangat menghargai mu. Mungkin surat-surat an seperti ini seperti hal classic tapi tidak bagi ku. Aku pasti kembali hanya untuk mu tapi jika aku tak kembali… janganlah kau bermuram durja ataupun bersedih. Aku sudah berjuang sekuat tenaga tapi Tuhan berkehendak lain… Hahaha… Maaf yah sayang bila aku berkata seperti ini tapi kita harus berpikir hal yang buruk juga kan!
Ada satu hal yang aku ingin minta dari kamu apabila aku tidak bisa kembali. Tolong tulislah yang kamu lakukan dari bangun pagi hingga malam hari pada satu lembar kertas dan masukan kedalam botol. Setelah itu, buang botol nya ke laut agar aku bisa mengetahui apa yang kamu lakukan pada hari itu. Maukah kau melakukan itu untuk ku? Hmmm… untuk Jessie, tolonglah jaga Caroline dan terimalah pinangan David. Hehehe…
Your Love,
Adam
Minggu, 05 Juli 2009
Pertahanan dan penghayatan
Kamu membentuk pertahanan
Belum menciptakan kesempatan
Tak menemukan apa-apa
Kamu member penghayatan
Hidupnya menawarkan warna
Terpisahkan dari warna hitam atau putih
Pertahanan nya menghayati hidup di dalam perigi yang akan menyeruak
Penghayatan nya tetap bertahan pada satu hidup yang akan bergulir seiring waktu berdetak
Keduanya memang bukanlah kesempurnaan tapi penyatuan dari hidup yang sebenarnya
Belum menciptakan kesempatan
Tak menemukan apa-apa
Kamu member penghayatan
Hidupnya menawarkan warna
Terpisahkan dari warna hitam atau putih
Pertahanan nya menghayati hidup di dalam perigi yang akan menyeruak
Penghayatan nya tetap bertahan pada satu hidup yang akan bergulir seiring waktu berdetak
Keduanya memang bukanlah kesempurnaan tapi penyatuan dari hidup yang sebenarnya
Terbawa arus
Gelombang menghantarkan kekuatan yang membawa ku pada sebuah kenyataan
Bangkit dari dasar keinginan yang tak terpenuhi
Terdengar jauh dan terlihat sangat dekat meski hanya samar
Tercium luka kemarin yang tak menyegarkan hati dan pikiran
Bermaksud menepi tapi tetap hanyut dan menyambut hulu dengan ketidakberdayaan
Bangkit dari dasar keinginan yang tak terpenuhi
Terdengar jauh dan terlihat sangat dekat meski hanya samar
Tercium luka kemarin yang tak menyegarkan hati dan pikiran
Bermaksud menepi tapi tetap hanyut dan menyambut hulu dengan ketidakberdayaan
Langganan:
Postingan (Atom)